Kamis, 18 Februari 2016

Perkembangan Psikologi pada Masa Pranatal
Membahas tentang kebidanan pasti tidak akan jauh jauh dari kehamilan, persalinan, masa nifas atau yang lebih berat pembahasannya yaitu tentang AKI (Angka Kematian Ibu) yang masih tinggi di Indonesia yaitu data terakhir sekitar 359 per 100.000 KH, padahal kesepakatan dunia yang tertuang pada MDG’s pada tahun 2015 AKI 102 per 100.000 KH. Disini kita tidak akan membahas materi yang berat-berat. yang ringan aja hehe..
Dimulai dari kegalauan atas asumsi asumsi saya tentang stimulasi perkembangan psikologi anak sejak dalam kandungan, ada yang memperdengarkan musik, Al-quran , atau dengan cerita-cerita dongeng untuk stimulasi perkembangan otak bayi. Yaa memang saya pun setuju tapi kurang kuat kalau berpendapat tanpa ada buku referensi. yang sebenarnya saya hanya mengandalkan info dari dosen atau pemateri di acara seminar atau workshop yang menurut saya infonya perlu dikuatkan dengan teori yang ada di buku sehingga ketika berpendapat atau memberikan informasi pada orang lain terutama pasien, info tersebut kuat dan bisa dipertanggungjawabkan.
Ini dia bukunya..

Penulis: Herri Zan Pieter, S.Psi
              Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun 2010

Oke langsung aja ke pembahasan tentang “Perkembangan Psikologi pada Masa Pranatal”

  • Perkembangan pada sensor perasa dan pencium

            Perkembangan sel perasa dan pencium janin dimulai pada usia 14 minggufase kehamilan dan akan terus berkembang hingga lahir (Bartoshuk dan Beauchamp, 1994). Pembelajaran terhadap penciuman dan merasa telah dimulai saat bayi mencium aroma yang dikonsumsi ibunya. Rasa dan pembauan makanan yang dikonsumsi ibu ditransmisikan kepada janin melalui cairan amniotic.
  • Kualitas pendengaran semakin meningkat

Sensori pendengaran janin diketahui berkembang ketika merespon suara detak jantung dan getaran-getaran ibunya yang dimulai pada 26 minggu kehamilan dan terus meningkat dan mencapai puncaknya pada usia 32 minggu kehamilan (Kisilevsky, Muair, dan Low, 1992). Bagi janin yang jarang atau sama sekali tidak menerima stimulus pendengaran kemungkinan besar dia mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasa dan kesulitan membaca.
  • Perkembangan dalam belajar dan mengingat

Perkembangan belajar janin telah diketahui ketika dia mengisap jari di dalam Rahim. Sementara perkembangan mengingat diketahui ketika bayi merekam setiap pembicaraan ibunya, atau ketika ibu sedang membacakan cerita-cerita dengan keras pada masa kehamilan. Membacakan cerita-cerita dengan suara keras lebih mengaktifkan rekaman ingatan bayi ketimbang ibu yang sama sekali tak pernah membacakan cerita pada masa kehamilan (DeCasper dan Spense, 1986).

Sedikit tapi semoga bermanfaat J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar