Minggu, 28 Februari 2016

Konsep Umum Penyakit

Sebelum kita membahas tentang konsep umum penyakit, kita harus tahu tentang konsep kenormalan atau oleh tenaga kesehatan sering disebut dengan batas normal. Jika dilihat lebih cermat, konsep kenormalan terlihat kompleks dan tidak dapat didefinisikan secara singkat dan jelas. Variasi nilai-nila normal terjadi karena beberapa alasan :

Pertama, tiap orang berbeda dari yang lain dalam susunan genetik mereka. Dengan demikian, di dunia ini tidak ada dua individu yang memiliki gen benar-benar sama kecuali mereka berasal dari satu ovum yang sudah dibuahi.

Kedua, tiap individu memiliki perbedaan dalam pengalaman hidup dan interaksi mereka dengan lingkungan.

Ketiga, pada tiap individu, terdapat variasi parameter fisiologik karna cara kerja mekanisme kontrol pada fungsi tubuh. sebagai contoh, konsentrasi glukosa darah pada orang yang sehat secara signifikan bervariasi pada waktu yang berbeda dalam sehari, bergantung pada asupan makanan, aktivitas individu, dan sebagainya.

KONSEP TENTANG PENYAKIT

Setelah kita mengetahui konsep kenormalan sekarang kita akan membahas tentang penyakit. Penyakit dapat didefinisikan sebagai perubahan pada individu-individu yang 

menyebabkan parameter kesehatan mereka berada di bawah kisaran normal. Tolak ukur biologik yang paling berguna untuk kenormalan berkaitan dengan kemampuan individu untuk memenuhi tuntutan-tuntutan dalam tubuh dan beradaptasi dengan tuntutan-tuntutan ini atau perubahan-perubahan pada lingkungan eksternal dalam rangka mempertahankan kekonstanan yang layak pada lingkungan internal.

Penyakit dikatakan ada, jika beberapa struktur dan fungsi tubuh menyimpang dari normal sampai pada suatu keadaan berupa rusak atau terancamnya kemampuan untuk mempertahankanhomeostasis normal atau individu tidak dapat lagi menghadapi tantangan lingkungan.

Penyakit tidak melibatkan perkembangan suatu bentuk kehidupan yang benar-benar baru, tetapi lebih merupakan perluasan atau distorsi proses kehidupan normal yang terdapat pada individu. Sebagai contoh kasus penyakit infeksi. Disini agen infeksius bukan merupakan penyakit tetapi hanya pencetus perubahan-perubahan yang akhirnya bermanifestasi sebagai penyakit.

Berdasarkan anamesis, diyakini bahwa saat ini penyakit merupakan suatu bentuk kehidupan baru, semacam pemilikan tubuh oleh agen dari luar. Dari dugaan ini, muncul bahwa bentuk "eksorsisme" tertentu untuk menyingkirkan agen penyakit tersebut merupakan terapi yang sesuai.

PERKEMBANGAN PENYAKIT

ETIOLOGI

Etiologi dalam definisinya yang paling umum, merupakan penetapan penyebab atau alasan fenomena. Suatu gambaran mengenai penyebab penyakit meliputi identifikasi faktor-faktor yang menimbulkan penyakit tertentu. Oleh karena itu, pada etiologi suatu penyakit tertentu, kisaran faktor-faktor ekstrinsik atau eksogen dalam lingkungan harus dipertimbangkan bersama dengan bebagai sifat-sifat instrinsik atau endrogen individu tersebut.

PATOGENESIS

Patogenesis penyakit menunjukkan perkembangan atau evolusi penyakit. patogenesis juga merupakan suatu rangkaian peristiwa fenomena tertentu dan aspek-aspek waktu timbulnya penyakit. Penyakit yang terjadi tidak bersifat statik (penyakit tersebut merupakan fenomena dinamik dengan irama dan polanya). 

Penyakit memiliki berbagai respons. contohnya, beberapa penyakit memiliki respon yang cepat, sedangkan yang lain memiliki gejala prodromal lama. Beberapa penyakit dapat sembuh sendiri (hilang secara spontan dalam waktu singkat), ada yang menjadi kronis, dan ada juga beberapa penyakit cenderung sering kambuh dan mengalami eksaserbasi.

MANIFESTASI

Pada awal perkembangan suatu penyakit, agen atau agen-agen etiologik dapat mencetuskan sejumlah perubahan dalam proses biologik yang dapat dideteksi oleh analisis laboratorium walaupun tidak memiliki gejala-gejala subjektif.

Pada saat proses-proses biologis tertentu terganggu, pasien secara subjektif mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Perasaan subjektif ini disebut sebagai gejala penyakit. Menurut definisi, gejala bersifat subjektif dan hanya dapat dilaporkan oleh pasien kepada pengamat. Namun, jika pengamat secara objektif dapat mengindentifikasi manifestasi penyakit, maka hal ini disebut tanda-tanda penyakit. Mual, malese, dan nyeri merupakan gejala, sedangkan demam, kemerahan kulit, dan massa yang dapat diraba merupakan tanda-tanda penyakit. Perubahan struktural yang dapat terlihat, yang ditimbulkan dalam perkembangan penyakit disebut lesi. Lesi dapat jelas secara makropis, mikropis, atau keduanya. Akibat suatu penyakit kadang-kadang disebut sebagai sekuele. sebagai contoh, sekuele proses peradangan pada suatu jaringan biasa dapat berupa parut pada jaringan tersebut. Komplikasi penyakit merupakan suatu proses baru atau proses tersendiri yang dapat timbul sekunder karena beberapa perubahan yang ditimbulkan oleh keadaan aslinya.

Akhirnya, dari semua postingan di atas dapat kita simpulkan bahwa penyakit bersifat dinamik bukannya statik. Manifestasi penyakit pada pasien tertentu dapat berubah dari hari ke hari ketika terjadi pergeseran keseimbangan biologik dan mekanisme kompensasi. Pegaruh lingkungan yang terjadi pada pasien juga mempengaruhi penyakit. Oleh karena itu tiap penyakit memiliki kisaran manifestasi dan spektrum ekspresi yang dapat bervariasi pada pasien yang satu dan yang lain. 

Sekian postingan tentang "konsep umum penyakit" dari saya, semoga bermanfaat. 

Klik Klasifikasi Etiologik Penyakit untuk mengetahui tentang "pembagian-pembagian penyakit".

Sumber : 
Patofisiologi (Ed 6, Vol 1) : Sylvia A. Price & Lorraine M. Wilson

Kamis, 18 Februari 2016

Perkembangan Psikologi pada Masa Pranatal
Membahas tentang kebidanan pasti tidak akan jauh jauh dari kehamilan, persalinan, masa nifas atau yang lebih berat pembahasannya yaitu tentang AKI (Angka Kematian Ibu) yang masih tinggi di Indonesia yaitu data terakhir sekitar 359 per 100.000 KH, padahal kesepakatan dunia yang tertuang pada MDG’s pada tahun 2015 AKI 102 per 100.000 KH. Disini kita tidak akan membahas materi yang berat-berat. yang ringan aja hehe..
Dimulai dari kegalauan atas asumsi asumsi saya tentang stimulasi perkembangan psikologi anak sejak dalam kandungan, ada yang memperdengarkan musik, Al-quran , atau dengan cerita-cerita dongeng untuk stimulasi perkembangan otak bayi. Yaa memang saya pun setuju tapi kurang kuat kalau berpendapat tanpa ada buku referensi. yang sebenarnya saya hanya mengandalkan info dari dosen atau pemateri di acara seminar atau workshop yang menurut saya infonya perlu dikuatkan dengan teori yang ada di buku sehingga ketika berpendapat atau memberikan informasi pada orang lain terutama pasien, info tersebut kuat dan bisa dipertanggungjawabkan.
Ini dia bukunya..

Penulis: Herri Zan Pieter, S.Psi
              Dr. Namora Lumongga Lubis, M.Sc
Penerbit: Kencana Prenada Media Group
Tahun 2010

Oke langsung aja ke pembahasan tentang “Perkembangan Psikologi pada Masa Pranatal”

  • Perkembangan pada sensor perasa dan pencium

            Perkembangan sel perasa dan pencium janin dimulai pada usia 14 minggufase kehamilan dan akan terus berkembang hingga lahir (Bartoshuk dan Beauchamp, 1994). Pembelajaran terhadap penciuman dan merasa telah dimulai saat bayi mencium aroma yang dikonsumsi ibunya. Rasa dan pembauan makanan yang dikonsumsi ibu ditransmisikan kepada janin melalui cairan amniotic.
  • Kualitas pendengaran semakin meningkat

Sensori pendengaran janin diketahui berkembang ketika merespon suara detak jantung dan getaran-getaran ibunya yang dimulai pada 26 minggu kehamilan dan terus meningkat dan mencapai puncaknya pada usia 32 minggu kehamilan (Kisilevsky, Muair, dan Low, 1992). Bagi janin yang jarang atau sama sekali tidak menerima stimulus pendengaran kemungkinan besar dia mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasa dan kesulitan membaca.
  • Perkembangan dalam belajar dan mengingat

Perkembangan belajar janin telah diketahui ketika dia mengisap jari di dalam Rahim. Sementara perkembangan mengingat diketahui ketika bayi merekam setiap pembicaraan ibunya, atau ketika ibu sedang membacakan cerita-cerita dengan keras pada masa kehamilan. Membacakan cerita-cerita dengan suara keras lebih mengaktifkan rekaman ingatan bayi ketimbang ibu yang sama sekali tak pernah membacakan cerita pada masa kehamilan (DeCasper dan Spense, 1986).

Sedikit tapi semoga bermanfaat J


Rabu, 17 Februari 2016

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina..
Tuntutlah ilmu hingga ke liang kubur....


Begitulah Hadits Rasulullah SAW..
Menuntut ilmu berarti meningkatkan kualitas, mulai dari hanya memahami 

2-1= 1 (memberi berarti hilang), menjadi 2-1= 2/3/4/5/6/7/~..( bahwa memberi itu berarti berbagi kebahagiaan, membantu sesama, membasuh hati yang kesusahan, penyegar bagi dahaga-dahaga yang kesusahan, tak terhingga)

Untuk sampai pada pemikiran itu, kita perlu proses penyadaran yaitu dengan menuntut ilmu..
dengan menuntut ilmu akan bertambah tingginya pengetahuan kita, tapi meredam keakuan kita. Ibarat padi, semakin berisi dia akan semakin merunduk.
Pendidikan meredam keakuan, menyadarkan kita sebagai hamba Tuhan pencipta alam semesta, menyadarkan kita bagian dari umat manusia, menggerakan kita untuk berbuat sesuatu demi kesejahteraan dan membangunkan dari mimpi bahwa tujuan hidup adalah KHUSNUL KHATIMAH..